Pendidikan usia dini yang punya arah.
KB-TK IT Al Ibrah Gresik menyelenggarakan pendidikan anak usia dini dengan tujuan yang jelas: menumbuhkan generasi Qurani, berakhlak mulia, tangguh, berprestasi optimal, dan berwawasan global.
Pembelajaran dirancang menyenangkan dan bermakna, tetapi tidak berjalan tanpa kerangka. Setiap kegiatan menghubungkan tahap perkembangan anak, nilai Islam, dan kecakapan yang mereka perlukan untuk melangkah ke jenjang berikutnya.

- Lembaga
- KB-TK Islam Terpadu
- Wilayah layanan
- Gresik, Jawa Timur
- Kerangka belajar
- Kurikulum Merdeka · JSIT · Montessori

Tiga kerangka yang bekerja sebagai satu kesatuan.
Otoritas pendidikan tidak cukup dibangun lewat nama program. Al Ibrah memadukan tiga pijakan agar guru memiliki arah yang konsisten saat merancang pengalaman belajar anak.
- Kurikulum Merdeka
- Tujuan belajar disusun sesuai fase perkembangan anak, dengan ruang untuk bereksplorasi dan membangun pemahaman.
- Kerangka JSIT
- Nilai Islam hadir di dalam pembelajaran, pembiasaan ibadah, tahsin, tahfidz, dan perilaku sehari-hari.
- Pendekatan Montessori
- Lingkungan dan kegiatan disiapkan untuk melatih konsentrasi, kemandirian, kreativitas, serta tanggung jawab.
Visi yang menjadi ukuran setiap keputusan.
“Terwujudnya generasi Qurani, berakhlak mulia, tangguh, berprestasi optimal, dan berwawasan global.”
Misi yang dikerjakan dalam keseharian
- Menanamkan kecintaan kepada Al-Qur’an dan membiasakan anak mengamalkan nilai yang terkandung di dalamnya.
- Menumbuhkan karakter yang kuat melalui keteladanan dan pembiasaan.
- Mengokohkan pribadi yang mandiri, berani, bertanggung jawab, dan adaptif terhadap perubahan.
- Mendidik anak agar berprestasi, peduli lingkungan, dan siap berkontribusi bagi masyarakat.
- Memfasilitasi pengenalan teknologi informasi dan komunikasi sesuai tahap perkembangan usia.
- Menumbuhkan wawasan nasional dan internasional serta kebinekaan global sejak dini.
Kewibawaan lembaga terlihat dari cara anak didampingi.
Nilai sekolah diterjemahkan menjadi pengalaman yang bisa dilihat dan dirasakan: pembiasaan Al-Qur’an, lingkungan yang melatih kemandirian, dukungan untuk kebutuhan belajar yang beragam, serta komunikasi perkembangan anak bersama keluarga.


Yang dirasakan keluarga.
Kepercayaan tumbuh ketika nilai yang dibangun di sekolah ikut terlihat dalam keseharian anak di rumah.


